Keluarga Dominigai Lapor ke Pengawas Tenaga Kerja Provinsi

Detak News, BATAM – Dominigai, karyawan PT Amtek Engineering Batam yang sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) setelah ditemukan dalam keadaan pingsan ditempat ia bekerja, pada 19 Desember, 2023, kini harus dirawat di rumah orang tuanya sejak Minggu, 4 Januari, lalu, karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bisa sehat seperti sedia kala.

Hal tersebut disampaikan manajemen RSAB kepada media ini saat dikonfirmasi perihal tidak ditanggungnya Dominigai oleh BPJS TK pada Selasa (30/01/2024).

Bacaan Lainnya

Endang Sulastri selaku Koordinator Pelayanan dan Customer Ralation RS Awal Bros yang saat itu mendampingi dr Shinta Trilusita, Manager Marketing RS Awal Bros mengatakan, kemungkinan pasien akan mengalami cacat.

“Kalaupun bisa normal kembali setelah sembuh, kecil kemungkinan. Tentu kita selalu berharap yang terbaik ya,” kata Endang.

Perihal pasien menjadi tanggungan BPJS Tenaga Kerja atau BPJS Kesehatan dr Shinta Trilusita menjelaskan, rumah sakit hanya mendiagnosis penyakit yang diderita Dominigai, perihal pasien menjadi tanggungan BPJS Tenaga Kerja atau BPJS Kesehatan, itu bukan wewenang rumah sakit.

“Selain mendiagnosis, melakukan perawatan, rumah sakit berusaha memberikan pelayanan sebaik mungkin,” kata dr Shinta.

Kendati demikian, pihak rumah sakit mengaku tetap berusaha menghubungi BPJS Tenaga Kerja setelah melakukan pemeriksaan Dominigai pertama kalinya.

Saat dikonfirmasi baik BPJS Kesehatan, pihak BPJS Tenaga Kerja, dan pihak PT AMTEK menegaskan bahwa ditanggungnya Dominigai sebagai BPJS Kesehatan, setelah hasil keputusan pemeriksaan dokter.

Alasannya, beragam sempat dikatakan hanya pingsan di tempat kerja, Dominigai disebut berpenyakit jantung, diduga akibat Dominigai tidak tidur selama dua hari. Namun hasil terakhir diagnosis RSAB menyatakan Dominigai terinfeksi paru-paru, bukan penderita penyakit jantung.

Pasaribu, ayah Dominigai membantah anaknya tidak tidur selama 2 hari sebelum kejadian menimpa diri anaknya. “Memangnya, anak saya kost di rumah dia (Opendi Siallagan) makanya bisa memutuskan anak saya begadang dua hari? tanya Pasaribu.

Sebagai Manajer Health, Safety, and Environment (HES) Amtek, kata Pasaribu, Opendi Siallagan harusnya menyuruh anaknya beristirahat jika mengetahui anaknya tidak tidur selama dua hari. Ia menyesalkan sistem safety PT AMTEK dinilai lalai dalam pengawasan saat anaknya bekerja.

Selain itu, Pasaribu menegaskan pasca dibawa dari perusahaan AMTEK ke RS Awal Bros kondisi jantung Dominigai sudah berhenti dan sekujur tubuh sudah dingin. Berapa lama anaknya terjatuh di area kerja, hingga Dominigai ditemukan dengan posisi jantung berhenti dan dilarikan ke rumah sakit, menurut Pasaribu, hal itu menimbulkan dampak terhadap kesehatan anaknya. Sesampai di rumah sakit, jantung Dominigai kembali berdenyut, tetapi kondisinya tidak sadar walaupun mata dalam keadaan terbuka jingga saat ini.

Sejak anaknya dikategorikan sebagai pasien vegetatif oleh RS Awal Bros, anaknya ditanggung BPJS Kesehatan dengan dalih Dominigai tidak termasuk dalam kecelakaan kerja atau pun pasien yang disebabkan oleh Penyakit Akibat Kerja atau PAK. Selain berpeluang cacat seumur hidup, beban biaya perawatan pun harus ditanggung pihak keluarga.

Home care, ambulance, oksigen kebutuhan medis lainnya menjadi beban orang tua Dominigai, lantaran home care, ambulance, oksigen dan beberapa kebutuhan lainnya tidak masuk dalam program BPJS Kesehatan. Padahal kondisi Dominigai saat ini masih tidak sadar dan memerlukan perawatan intensif. Disebut intensif, karena kondisi pasien tergantung dengan bantuan pernapasan oksigen dan bantuan peralatan medis lainnya.

Dengan harapan anaknya mendapat haknya sebagai pekerja di perusahaan AMTEK sebagai peserta BPJS Tenaga Kerja, kini orang tua Dominigai, melapor ke ke UPT Pengawas Tenaga Kerja Provinsi Kepulauan Riau, Rabu, 7 Februari 2024.

Nurhaidah, ibunda Dominigai, mendatangi kantor Pengawasan Tenaga Kerja, mengadukan nasib anaknya yang tidak mendapat kepastian sebagai pekerja di perusahaan AMTEK atas haknya sebagai peserta BPJS Tenaga Kerja.

Menanggapi pengaduan keluarga Dominigai, Yudi, kepala bidang pengawasan Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau mengapresiasi laporan yang disampaikan pihak keluarga.

Menurut Yudi, hal mendasar yang dimiliki pekerja memang wajib mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja, sebagai perlindungan. Perihal Dominigai ditangani BPJS Kesehatan, Yudi mengatakan hal ini tidak mutlak menjadi keputusan. Oleh karena itu, pihak pengawasan nantinya akan mengklarifikasi kepada pihak-pihak terkait sesuai laporan keluarga Dominigai.

“Hukumnya, wajib setiap pekerja mendapat jaminan sosial perlindungan, terlepas dia celaka atau tidak. Tidak juga mutlak bahwa keputusan kecelakaan kerja itu di tangan BPJS tidak. Oleh karena itu, kita akan melakukan penelurusan dulu,” kata Yudi. (ea)

Pos terkait